Kejadian sebenarnya disekitar bulan oktober 2012 di salah satu Hotel di surabaya.

Saya dan 2 teman kantor ada tugas kantor untuk meeting progres project di hotel tersebut. Karena tidak mau ribet harus bolak balik, akhirnya pesan 1 kamar double bed untuk kami bertiga.

Meetind sedari siang akhirnya selesai pas mau maksud maghrib, alhamdulillah bisa segera mandi, sholat dan cari makan. Pilihan jatuh ke rawon setan, tidak terlalu jauh dari hotel dan yang pasti harganya tidak terlalu mahal !

Jam 08.00 pm selesai makan bareng 2 teman dari kantor, balik lagi ke hotel.. nah inti cerita dimulai. Selepas pemeriksaan security, anak anak bukannya menuju lift, tetapi berbelok ke kanan, menuruni tangga berjalan terus belok kanan.. terdengar suara music yang cukup memaksa kami bertiga berbicara dengan volume tinggi dan bedekatan. Ceritanya saya diajak nonton live music !. Pandanganku menyapu ruangan (gaya banget pilihan katanya haha).. menurut saya dengan space yang tidak terlalu luas, lampu temaram, saya merasa terintimidasi oleh lalu lalang orang, kebanyakan perempuan sudah cukup berumur dengan baju sedikit kekecilan, beberapa bule.. tukang oplos minum.. dan berderet botol-botol yang sebelumnya hanya biasa saya lihat di film barat.. oh ya pernah sekali deretan botol –botol seperti itu saya lihat sebelumnya di salah satu restoran yang bisa kita temui gedungnya setelah wisma bakrie, sebelum menara centris jakarta.

Mbak-mbak muda berseragam kaos tshirt warna hijau muda dipadu jeans dan sepatu boot menghampiri meja kami, dengan sopan menanyakan minuman apa yang saya pesan. Saya memilih menyebutkan nama minuman paling akhir diantara kami bertiga, sama dengan pilihan teman saya setelah saya pastikan tidak ada content alkohol di dalamnya. Setelah memastikan ulang pesanan kami, mbak tadi pamit untuk menyiapkan minuman pesanan kami.

Belum habis 1 lagu, pesanan kami datang. Setelah mengucapkan terimakasih, saya coba segera mencicipinya, mengobati syaraf penasaranku. Lidahku menterjemahkan minuman tersebut sebagai campura soda dengan sirup.. oh ini namanya soda gembira kalau di warung bubur kacang ijo dekat kos saya, cuma minus susu kental manis.

Kuping kami bertahan tidak lebih dari 6 lagu (kalau saya tidak salah hitung). Segera saya panggil mbak berkaos hijau untuk meminta bill minuman kami bertiga.

Tidak seberapa lama, mbak tadi datang. Tidak dengan selembar bill tetapi ditangannya ada 1 gelas besar berisi air warna sedikit coklat bening, dengan sisi atas masih terlihat buih yang kemudian saya ketahui namanya bir.
Sampai di meja kami, dengan sedikit malu, saya sampaikan

“Maaf mba, yang saya maksud tadi BILL bukan BIR, apakah bisa kami batalkan bir ini karena kami tidak meminumnya, dan bisa kami minta bill saja ?”

Dengan ramah mbak tadi mengiyakan dan mengambil bir tadi sebelum meninggalkan meja kami. Akhirnya mbak tadi kembali dengan bill, saya cek tidak ada daftar bir di bil, saya keluarkan 3 lembar warna biru.. dan keluar dari area live music tersebut.
Belum jauh langkah kami bertiga meninggalkan tempat tersebut, saya merasa ada yang memanggil dari belkang. Mbak berkaos tsirt hijau tadi membawa laptop dan saya mengenalinya sebagai milik saya. Saya terima laptop saya, saya ucapkan terimakasih sungguh sungguh dan hati berbisik, mbak berkaos hijau tadi, diantara perempuan diseluruh ruangan yang kami masuki tadi adalah yang paling ‘baik’ dengan pakaian paling layak  (untuk istri saya, kalau baca tulisan di blog ini, tolong jangan cemburu, setelah itu tidak pernah ketemu, dan tidak ada sediktipun keinginan untuk balik lagi ke tempat tersebut).