Semalam sekitar jam 1.44 pagi dini hari baru kelar membaca novel ini.
Novel genre thriller karya S. Ito ini mengingatkan kita ke gaya turur Dan Brown, yang kaya akan kejutan dan cukup untuk mengaktifkan syaraf penasaran ketiga menulusiri halaman demi halaman novel ini. Tidak adil untuk mengharapkan novel ini melampaui kualitas karya Dan Brown (mengacu ke beberapa comment di goodreads).

Bertutur tentang ‘benang merah’ plato-aristoteles-iskandar agung – minang – sriwijaya – majapahit, memaksa kita untuk mempertanyakan kebenaran tentang textbook sejarah bangsa ini apakah sudah final ?, juga hipotesa tentang negeri atlantik lama berada di nusantara kini.

Sejarah diramu begitu apik dengan bumbu dan interpretasi penulis terhadap sejarah, setidaknya memaksa saya untuk membuka wikipedia untuk memastikan keselarasan ‘sejarah’ yang diungkap di novel ini dengan fakta yang diyakini secara umum.

Penulis juga memprovokasi kita untuk tidak diam dan menerima keterpurukan negeri Indonesia ini yang dihancurkan oleh kita-kita sendiri, ketidakpedulian kita juga memberi andil semakin terpuruknya negeri ini dan mengingatkan bahwa kita pernah bisa menjadi bangsa besar yang bisa menegakkan kepala terhadap bangsa lain, indonesia yang bukan hanya sekedar kesatuan wilayah bekas jajahan belanda tanpa ruh, tetapi sejatinya Indonesia sebagai kesatuan ide dan gagasan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Penulis juga mengingatkan kita bahwa kita memiliki warisan tatanan hukum yang sangat baik, kepatuhan tehadap hukumlah yang melanggengkan suatu bangsa, dan hasrat untuk memiliki lebihlah yang meruntuhkan bangunan kebangsaan..

Dengan mendeskripsikan tempat-tempat yang familiar kita kenali. sehingga mudah bagi kita untuk berimajinasi terhadap bagaimana jalinan cerita ini berlangsung.

Beberapa hal yang sedikit mengganggu di novel ini adalah antara lain, kurang telitinya penulis untuk otak-atik angka sandi 18, 20, 23, 1, 1, 6 menjadi 23-9-0-5 (dengan petunjuk selisih antara 2 angka yang berdekatan), terjadi miss di sini. Juga cerita kirim email dengan attachment sebesar 30MB dalam perjalanan mobil dibatasi waktu 45 menit..?
Juga terasa sejarah lebih condong ‘memuliakan’ kebudayaan/sejarah minang ? (bukan karena saya kebetulan dr jawa hehe..), tapi saya bisa memahami karena penulis berasal dari minang. Diluar itu semua, faktanya novel ini mampu memaksa saya untuk tidak sarapan dan begadang sampai larut malam.