(Coretan ini ditulis waktu mengenang peristiwa 98)

Darah itu masih saja mengalir…
tubuh muda terbaling lemah
‘tersentuh’ peluru
tersungkur.. meregang
menahan erang
hanya karena berdiri di seberang
‘kekuasaan’-mu
tidakkah kau dengar
aspalpun menjerit memohon
tak ada lagi tetes darah tak berdosa
‘mengotorinya’
tidakkah kau dengar
peluru pun memebrontak menolak menyentuh tubuh yang teriakkan cintanya pada negeri
martir itu telah diam
080505