Tag

Gempa adalah ‘peristiwa alam’ yang terjadi karena adanya aktivitas vulkanis gunung berapi maupun tektonik antar lempeng yang menyebabkan goncangan di ‘tempat/bagian tertentu’ dari bumi. Kerusakan yang ditimbulkan gempa seperti apa ?, Pada dekade terakhir ini kita bisa menyaksikan bagaimana gempa di aceh, ratusan ribu meninggal dunia (mungkin ada yang bilang, yang menyebabkan banya kematian disitu bukan gempa teteapi tsunami, tetapi tsunami ga muncul dengan tiba tiba kan, tsunami muncul akibat dari peristiwa gempa yang terjadi), belum lagi gempa di Yogyakarta,gempa tasik, gempa nias, dan gempa padang.. terakhir yang kita dengar adalah gempa di kepulauan Haiti yang diperkirakan ribuan orang meninggal. Semua peristiwa tadi tidak lepas dari kuasa-Nya.

Siapapun yang pernah merasakan gempa akan merasakan atmosfir kepanikan, meski tidak menimbulkan kerusakan apa-apa, tetapi bagaimana saat terjadi gempa di Jawa Barat baru baru ini,tiba-tiba nalar/kesadaran hampir hampir tidak berfungsi, yang ada hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan berjalan bahkan lari secepat mungkin untuk menuruni tangga sedang bibir tak berhenti mengucap asma-Nya. Kalau orang jawa bilang, kaki nrojot,ati moplok saking takutnya.

Itu baru gempa, yang getarannyapun masih terukur oleh instrument manusia. Lantas, bagaimana dengan kiamat ?, tidak pernah bisa tergambarkan bagaimana dasyatnya peristiwa itu. Kalau gempa disebut sebagai ‘tempat/bagian tertentu’ dari bumi yang bergetar, dengan kerusakan yang ditimbulkannya sungguh mengerikan,bagaimana jika keseluruhan bumi ‘DIGUNCANG’, tidak ada lagi tempat aman, tidak ada lagi bala bantuan dari tempat lain/negara lain, itu baru kejadian akibat bumi diguncang..bagaimana jika bumi benar-benar DIGUNCANG dengan SEGUNCANG GUNCANGNYA ?..

1. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),

2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,

3. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”,

4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,

5. karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

(QS 99. Al Zalzalah 1-5)

6. Ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?”

7. Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),

8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya,

9. dan matahari dan bulan dikumpulkan, 10. pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?”

11. sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!

(75. Al Qiyaamah (6-11)

Begitulah Allah memperingatkan bagaimana dasyatnya kiamat pada saat itu. Wallahu a’lam betapa dasyatnya peristiwa ini.

Terus apa hubungannya kiamat dengan penegakan hukum ?

Dengan sangat (maaf) telanjang, bagaimana keadilan di negeri dan dunia ini masih saja dijual belikan, yang salah bisa jadi bebas dari hukuman asal ada uang, yang benar disingkirkan dengan fitnah, tipu daya maupun rekayasa. Kalaupun penjahat tersebut tidak bisa lolos dari jerat hukum, karena tidak semua yang diamanahi untuk menjamin rasa keadilan bagi masyarakat (maaf) brengsek, tetapi baru saja kita lihat, ketidakadilan terjadi di tempat dimana seharusnya pihak yang diputuskan bersalah untuk menjalani hukuman agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi (LP, bukan Linkin PArk)dimana diharapakan bisa menjadi pelajaran bagi pihak lain untuk tidak melakukan perbuatan/kejahatan yang sama. Terhukum dengan leluasanya menikmati segala fasilitas dan kemewahan yang bagi orang bebaspun hanya sedikit yang bisa merasakan segala kemewahan/fasilitas tersebut. Kalau saya boleh bilang.. ngeri se-ngeri ngeri-nya ! (sorry, tulisannya belepotan saking esmosinya😉 )

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Tuhanmu..

Gambaran kejadian diatas tidak lantas membuat kita berputus asa atas tegaknya keadilan di negeri ini. Tanggung jawab kita kepada Pemilik kehidupan ini, PEncipta Bumi seisinya adalah dalam prosesnya bukan hasilnya. Kalau keadilan belum tegak, merupakan ladang amal untuk amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) sebagai usaha (proses) yang kemudian jika dikerjakan dengan ikhlas menjadi amal kebaikan untuk bekal di kehidupan mendatang. Bukan berarti karena tanggung jawab kita hanya pada proses dan hasil urusan Allah maka kita serampangan saja dalam ber-proses. Diperlukan tujuan hasil yang ingin diperoleh dari usaha yang kita lakukan. Diperlukan rencana yang baik bahkan terukur atas usaha yang akan kita lakukan agar usaha menjadi lebih dekat ke hasil. Begitupun dengan usaha untuk mewujudkan rasa keadilan di negeri ini, ga’ bisa serampangan tanpa rencana yang baik. Keburukan/kejahatan yang diorganisir dengan baik mampu mengalahkan kebaikan yang dikerjakan dengan serampangan. Benar, yang dimintakan pertanggung jawaban pasa usaha bukan hasil tepapi bagimana Rosulullah dan para sahabat benar benar merencanakan setiap peperangan degan kaum kafir dengan perencanaan yang matang dan terukur (tentu tak lepas dari pertolongan Allah), tetapi usaha keras untuk melatih diri,merencanakan taktik, mengumpulkan informasi posisi dan kekuatan lawan, adalah usaha untuk terwujudnya kemenangan. Bagaimana perang Uhud yang telah direncanakan dengan matang, lengkap dengan informasi posisi dan kekuatan musuh, kemungkinan pergerakan musuh,maka disusun taktik agar mampu memukul mundur dan bisa mengalahkan musuh yang datang menyerang, menjadi rusak hanya karena apa yang direncakan dengan baik tidak dijalankan dengan semestinya (rencana yang telah disusun ) akibatnya, berapa banyak sahabat yang gugur, berapa banyak hafidz yang gugur karena tidak konsistennya terhadap eksekusi rencana (tentu semua itu tak lepas dari kehendak Allah). Itu usaha dengan rencana yang sudah disusun matang,apalagi kalau usaha tanpa rencana sama sekali ?

Kembali lagi ke soal kiamat. Dengan adanya kiamat maka kehidupan baru dimulai. Di kehidupan baru inilah keadilan ditegakkan, segala kejahatan waktu didunia akan mendapatkan balasan, begitupun dengan kebaikan. Kalaupun tidak mendapatkan keadilan di dunia (kehidupan sebelumnya), maka akan dijamin keadilan akan didapatkan di kehidupan akhirat nanti. Kepastian hukum akan didapatkan. Yang dulu merasa dizalimi bisa mendapatkan rasa keadilan, yang dulunya menzalimi akan mendapatkan balasannya dengan seadil adilnya.

6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,

7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.

8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

(99. Al Zalzalah)

12. Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.

13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

14. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri[1531],

( 75. Al Qiyaamah 12 -14)

Akhirnya, dengan keyakinan akan keadilan Allah pada hari kemudian bukan berarti kita pasrah begitu saja akan ketidak adilan di negeri ini khususnya, muka bumiumumnya (toh nanti di kehidupan mendatang semuanya mendapatkan balasan setimpal).

Perlakuan adil, perjuangan untuk menegakkan keadilan, menjamin rasa keadilan bagi masayarakat adalah ‘ladang amal’ yang jika dijalankan dengan ikhlas karenanya dan menjadi bekal bagi kehidupan kita mendatang.

Biarlah mereka yang masih saja terlena kekuasaan (semu) yang dimiliki mempermainkan keadilan, apa yang kuasa kita lakukan, kerjakanlah. Untuk melawannya, jika energy dihimpun secara massif sesuai kapasitas masing masing, keadilan segera terwujud di negeri ini. Kalau penjahat saat ini bersatu memperkosa rasa keadilan masyarakat, maka harusnya juga polisi yang baik, jaksa yang baik, hakim yang baik,pengacara yang baik, saksi yang baik, masyarakat yang baik, dan (semoga) penguasa yang baik bersatu maka keadilan dan tegaknya hukum secara benar akan terwujud di negeri ini.

Amin (Ya ampunilah kalau hamba-Mu hanya pandai berceloteh, dan masih jauh dalam amal)