Seorang Akhdiat K Mihardja, kelahiran 6 Maret 1911. dulu beliau yang menulis buku terkenal ATEIS, aku lupa terbitan tahun berapa. Pertama aku baca sewaktu aku masih sekolah di SMU 1 Purworejo.
Di usia senja tapi tidak pernah kadaluarsa, beliau mengungkapkan kegelisahannya daam buku tipis yang dia sebut sebagai KISPAN berjudul Manifesto Khalifatullah.
Berikut komentar Taufiq ismail mengenai buku ini, “ Ditulis dalam keadan mata penulisnya nyaris buta, manifesto Khalifatullah adalah semacam rangkaian kuliah penutup tentang makna kehidupan dari seorang dosen sastra emeritus”.

… bahwa fitrah manusia adalah menjadi khalifatullah, sebagaimana dulu telah Tuhan sampaikan ke malaikat-Nya.
Manusia memiliki ‘sebagian’ sifat ketuhanan yang ‘terbatas’. Visi manusia sangat jelas, hendak menciptakan wakil-wakilnya di bumi. Karena kedengkian syaiton atas kehendak penciptaan manusia dengan maksud untuk menjadi wakil-wakil-Nya, maka syaiton dengan super hyperactivenya berencana menggagalkan terwujudnya visi Tuhan.

Akhdiat melihat bahwa manusia-manusia dalam visi wakil Tuhan saat ini sedang meluncur deras ke arah kehancuran, ada yang meninggalkan Tuhan… ada yang ditinggalkan Tuhan !
Ada bangsa yang terdiri atas wilayah yang hijau subur tapi berisi gendruwo-gendruwo rakus ‘abdul buthun, mengaku mengenal Tuhan dan ber-Tuhan, mengakku berpancasila, berketuhanan tetapi dalam prakteknya selalu menggap ‘sepi’ keberadaan Tuhan. Bangsa yang mengaku berTuhan tetapi ‘telah ditinggalkan Tuhan’ (semoga pikiran Akhdiat yang terakhir ini bukan yang sebenarnya sedang terjadi pada bangsa ini)
Akhdiat kini semakin tua, di ujung hidupnya, yang ia saksikan sekarang adalah kebodohan bangsanya yang seolah-olah lupa atau benar-benar lupa atas fitrah penciptaan atas dirinya, mengaku berTuhan tetapi mengacuhkannya.