Arsip Kategori: electrical

Berikut ini cara sederhana untuk desain kebutuhan lift yang saya rangkum dari beberapa artikel, moga bermanfaat.

Penentuan jumlah car (lift) untuk memastikan bahwa kapasitas transportasi dan waktu tunggu terjaga masih dalam service level yang dipersyaratkan pada saat jam sibuk dimana terjadi konsentrasi penumpang pada jam-jam sibuk.


Berikut guide line untuk penentuan jumlah elevator :


1. FAKTOR BEBAN PUNCAK LIFT (PEAK LOAD FACTOR)

Beban puncak lift tergantung :

- jenis gedung

- lokasi gedung

di Indonesia,

kantor : 4% dari jumlah penghuni gedung

flat : 3% dari jumlah penghuni gedung

hotel : 5% dari jumlah penghuni gedung

RS : 5% dari jumlah penghuni gedung

Taksiran kepadatan pengguna gedung per m2

perkantoran : 4 m2/orang

flat : 3 m2 /orang

hotel : 5 m2/orang


2. WAKTU PERJALANAN BOLAK-BALIK LIFT (ROUND TRIP TIME)

Waktu yang diperlukan lift berjalan bolak-balik dari lantai terbawah hingga teratas (dalam zone), termasuk waktu berhenti, pemumpang keluar masuk lift dan pintu membuka dan menutup di setiap lantai tingkat, dengan kapasitas “m“ orang, dirinci sebagai berikut :

1. Penumpang masuk lift di lt dasar = 1.5*m detik/orang

2. Pintu lift menutup di lantai dasar = 2 detik

3. Pintu lift membuka dan menutup di setiap lantai = (n-1)*2 detik

4. Penumpang keluar per lantai = {(n-1)*m}/{(n-1)*1.5} detik

= 1.5*m detik

5. Perjalanan bolak balik lift (dasar ke atas) = (2(n-1)*h)/s detik

6. Pintu lift membuka di lantai dasar = 2 detik

dengan,

h = tinggi lantai ke lantai (m)

m = kapasitas lift (orang)

n = jumlah lantai/zone (buah)

s = kecepatan lift (m/s)

Jumlah = T = ((2h+4s)(n-1)+s(3m+4))/s detik


3. KAPASITAS ELEVATOR (LIFT)

- Daya muat atau kapasitas , tergantung pabrikan.

– Lazimnya : 5 s.d 20 orang

– Untuk kebutuhan khusus : 50 orang (double deck)


Penentuan kapasitas Lift harus direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi waktu puncak dimana terjadi konsentrasi penumpang tertinggi.

Disarankan,

a. Untuk gedung kecil ~ menengah, kapasitas passanger ≥ 15 penumpang load kapacity of 1000 kg)

b. Untuk gedung tinggi/hotel, kapasitas passanger passanger ≥ 24 penumpang (load kapacity of 1600 kg)

c. Pintu lift sebaiknya didesain terbuka dari tengah dan ukuran lebar ruang masuk disarankan selebar mungkin dengan tetap mempertimbangkan ukuran dimensi kedalaman ruang elevator.


4. KECEPATAN ELEVATOR (LIFT)

Waktu yang dibutuhkan untuk bergerak dari lantai paling atas ke lantai paling bawah tidak lebih dari 30 detik.

- kecepatan dipilih tergantung tinggi gedung

- makin tinggi gedung, makin cepat lift

- kecepatan mempengaruhi :

- waktu bolak-balik lift

- waktu menunggu lift

- sebagai batas kecepatan diambil gerak jatuh bebas oleh gaya tarik bumi ( 10 mtr/dt)

- kecepatan rendah lift = 1 mt /detik

- kecepatan tinggi lift = mendekati 10 mtr/detik


Hubungan antara kecepatan elevator dan jumlah lantai adalah sebagai berikut :


5. JUMLAH ELEVATOR (LIFT)

- Pada gedung tinggi, dibagi perzona vertikal

– Pembagian dalam zona untuk menghemat lift

– tinggi 1 zona = +/- 20 lantai

N = (2*n*T(A2-M3))/(3*m*(n*T+40000)) buah lift


- dihitung seteliti mungkin,

Untuk Zone lebih dari 1, dapat dihitung dengan persaman sebagai berikut :

N = (2*n*T(A2-M3))/(3*m*(n*T+40000)) buah lift

Zone 2 (Lt dasar s.d Lantai “x”) :

N2 = (2*a*n2*T2*P)/(600*a”*m+3*m*n2*T2*P)

N1 = (2*n1*T1*P(a-6*m))/(3*m(200*a”+ n1*T1*P)


6. WAKTU MENUNGGU LIFT

Kesabaran orang menunggu tergantung kota, negara (kota besar kurang sabar)

- waktu tunggu, – 30 detik (perkantoran)

- 60 detik ()

- waktu menunggu = (waktu bolak-balik/jumlah lift)

W = T/N detik


7. TENAGA/ENERGI LISTRIK (UNTUK LIFT)

Energi yang dibutuhkan lift dengan,

- kapasitas = m orang

- kecepatan = s mtr/detik

adalah sama dengan energi potensial lfit berikut muatannya.

- untuk menghemat listrik, tinggi gedung dibatasi

- tenaga listrik yang dibutuhkan hanya untuk mengerek muatan lift saja

- lift dalam keadaan kosong dapat dibuat seimbang oleh bandul (counterweight) lift

- jika 1 orang = 75 kg, dengan kapasitas (m) orang, maka energi potensial setinggi “h” meter

(tinggi lantai ke lantai) = 75*m*h kgm

Ini ditempuh dalam h/s detik.


Daya = (kerja/waktu)             = (75*m*h)/(h/s)

= 75*m*s kgm/det

= m*s HP

1 HP = 0.746 kWatt

Daya (E) = (0.746)*m*s kWatt

8. PENENTUAN SERVICE FLOOR

Tujuan dilakukan pembagian zone untuk masing-masing lift/group lift ditujukan untuk menurunkan waktu transportasi, meningkatkan rental rates dsb.

Pembagian zone mengacu pada pembaain elevator service terhadap jumlah zone, dan instalasi elevator group ditujukan untuk masing-masing zone.

Disarankan, sebaiknya ditentukan area service 10 ~ 15 lantai untuk masing-masing zone.


Rules of Tumb

1. Untuk bangunan tinggi, 1 orang = 11,65 m2 Lantai

2. Jumlah penghuni/pemakai gedung :

-  225 s.d 250 orang = 1 elevator

– tinggi bangunan kurang dari 20 lantai

– typical floor lebih dari 930 m2

3. 1 (satu) elevator service untuk +/- 27800 m2 Lantai

4. Ratio elevator service dengan elevator penumpang pada Hotel

0.5 : 1 atau 0.6 : 1

Referensi :

1. Thosiba Inverter High Speed PMSM Gaerless Elevator, distributed by Thosiba Elevator and Building System Corporation.

2. Mekanikal Elektrikal by Sunarno, PENERBIT ANDI

3. Buku catatan mas gilang (itb archie ‘98)

Kita ingin memasang shower elektrik dalam kamar mandi. Mengacu pada datasheet pabrikan, peralatan ini membtuhkan 6.9 kW. Total panjang kabel memanjang dari main distribution board adalah 15 mtr, dimana 2 meter ujungnya akan tertanam dalam plester dibelakang kubical shower. Sisanya dijepit pada joist dibawah lantai. Shower memiliki MCB sendiri terpasang dalam distribution board. Berapa ukuran kabel yang diperlukan ?

Pertama, kita perlu mengetahui arus yang dibutuhkan :

Arus = daya / tegangan

= 6900W / 230 Volt

= 30 Ampere.

Karena memiliki MCB tersendiri, kita dapat memilih rating MCB. Dari katalog pabrikan, untuk MCB tipe 1, dapat dipilih 30 ampere sebagai arus nominal sistem.

Mengacu pada tabel A.1 untuk mendapatkan dasar ukuran kabel.

Table A.1: Nominal current-carrying capacity of general-purpose, two-core, PVC-insulated copper cables at 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4D2A

IEE Wiring Regulations table 4D2A

Source: IEE Wiring Regulations table 4D2A

Mengingat sebagian besar kabel tertanam dalam plester, maka untuk keamanan kita pilih ‘enclosed in a wall’ dari tabel tersebut. Kita dapatkan ukuran 6 mm2 memiliki rating 32 ampere dan sepertinya telah sesuai.

Selanjutnya untuk faktor koreksi. Pertama, sangat mungkin bahwa suhu lingkungan sedikitnya lebih besar dari 30 derajat pada sebagian kabel, karena berada di belakang kubikal shower.Kondisi seperti ini mau tidak mau mungkin sekali naik menjadi lebih dari 40 derajat, Selanjutnya, saya akan menggunakan kondisi diatas sebagai gambaran dasar.. Berdasarkan tabel A.2

Tabel A.2. Correction of current carrying capacity of general purpose PVC cables for ambient temperatures different from 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4C1

Efecive cable capacity = 0.87 x 32 ampere

= (faktor koreksi temperatur x rating arus.

= 27.84 ampere

Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai efektif kurang dari perhitungan arus nominal (30 ampere), untuk itu kabel dengan ukuran 6 mm2 tidak memenuhi persyaratan dan harus dipilih ukuran yang lebih besar, yaitu 10 mm$^2$ yang memiliki rating arus 43 amps (lihat table 1), selanjutnya lakukan perhitungan ulang berdasar table 2.

Efecive cable capacity = 0.87 x 43 ampere

= (faktor koreksi temperatur x rating arus.

= 37.41 ampere

Lebih besar dari arus nominal,sampai disini judgment untuk pemilihan kabel OK

Saya tidak perlu melakukan koreksi grouping, karena kabel baru ini ditempatkan jauh daru kabel kabel lain yang sebelumnya telah terpasang pada area tersebut.

Saya juga tidak perlu melakukan koreksi terhadap pengaruh thermal insulasi, karena tidak ada sesuatu berada disekeliling kabel tersebut. Akhirnya, didapatkan rating arus terkoreksi adalah 37.41 ampere, yang nilainya jauh dari 30 ampere (arus nominal), sehingga sampai disini tidak ada masalah.

Selanjutnya, menghitung jatuh tegangan yang terjadi. Dari table A.5, nilai resistansi per meter untuk kabel ini adalah 0.0044 ohm. Dengan panjang kabel yang digunakan adalah 15 meter, maka

Total resistansi = 0.0044 Ohm/meter * 15 meter

= 0.066 Ohm.

Jatuh tegangan = 0.066 Ohm * 30 Ampere

= 1.98 Volt.

Nilai jatuh tegangan masih jauh dari 9.2 Volt sebagaimana yang dipersyaratkan, sehingga sejauh ini judgment OK.

Table A.5: Resistance per metre of two-core cable, at 70 degress celcius. Figures are given for the two power cores (for voltage drop and short-circuit current calculations), the power and earth cores (for disconnection time calculations), and the earth alone (for shock voltage calculations). Source: IEE Wiring Regulations table 4D2B

Akhirnya, bisa ditetapkan ukuran kabel yang aman untuk keperluan ini adalah 10 mm$^2$

Karena kabel ini untuk melayani shower, untuk amannya sebaiknya menggunakan RCD untuk proteksi gangguan pentanahan. Jadi, pada prinsipnya saya tidak perlu melakukan pengecekan waktu pemutusan (disconnection time) pada saat terjadinya gangguan pentanahan. Tetapi untuk keperluan latihan, mari kita lakukan perhitungan untuk hal ini.

Panjang kabel 17 meter. Nilai resistansi kombinasi konduktor pembumian dan fasa (table A.5) adalah 0.0077 Ohms/meter, jadi untuk panjang 17 meter, nilai tahanannya adalah 0,13 Ohm. Dengan menggunakan asumsi bahwa tahanan bagian ekternal dari loop pentanahan adalah 0.8 Ohm, maka total tahanan pembumian loop adalah 0.13 + 0.8 = 0.93 Ohm. Arus gangguan pentanahan menjadi 230/0.93 amps atau 247 amps. MCB yang telah dipilih adalah dengan rating 30 A (lihat label A.6), akan trip dalam 0.4 detik dengan arus sebesar 120 amps. Untuk itu, waktu pemutusan diatas telah memenuhi, meskipun tidak menggunakan RCD.

referensi: A guide to selection of electrical cable ©2001 Kevin Boone

Berikut tahap-tahap untuk melakukan perkiraan kebutuhan ukuran kabel listrik mengacu pada IEE Wiring Regulation lampiran 4.

Asumsi yang digunakan sebagai standard adalah sebagai berikut :

  • Peralatan arus lebih yang melindungi kabel berupa MCB atau sekering (tidak termasuk rewirable fuse). Karena re-writeable fuse baru akan putus pada level arus 50% lebih tinggi dari MCB.
  • Kabel umumnya menggunakan PVC dengan dua inti konduktor dan pentanahan, dengan rating temperatur arus maksimum 70 degree celcius.
  • Peralatan proteksi memberikan perlindungan beban lebih, (tidak hanya perlindungan hubung pendek)
  • Jika kabel diikat bersama-sama, harus memiliki ukuran yang sama, menghantarkan besar arus yang sama, dan memiliki maksimum temperatur yang sama. Dalam praktek, jarang ditemukan masalah ketika ketika kabel kabel tersebut berbeda ukuran atau arus yang dihantarkan, tetapi kabel-kabel tersebut harus se-tipe, dan dengan temperatur masksimum yang sama.

Sebagai catatan, dalam instalasi rumah tangga, biasanya menggunakan 2.5 mm2 untuk kabel daya dan 1.5 mm2 untuk intalasi pencahayaan. Prosedur berikut diperlukan untuk instalasi dengan menggunakan kabel yang cukup panjang, atau instalasi daya diluar gedung atau penggunaan peralatan yang membutuhkan arus besar.

3.1 Bagan Prosedur

Yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini adalah melakukan pengecekan, meliputi :

· Syarat current carrying capacity (Kuat Hantar arus , KHA)

· Syarat jatuh tegangan

· Syarat waktu pemutusan.

Jika salah satu persyaratan diatas tidak terpenuhi, maka diharuskan menggunakan kabel dengan ukuran yang lebih besar. Jika, persyaratan waktu pemutusan tidak terpenuhi dengan kabel yang berukuran lebih besar, maka diperlukan proteksi RCD untuk melindungi dari bahaya gagal pentanahan.

3.1.1 Step 1: menghitung arus nominal

Arus nominal (the nominal current) akan digunakan sebagai dasar pemilihan rating MCB untuk melindungi system. Rating MCB harus lebih besar dari arus yang dibutuhkan oleh peralatan yang terhubung. Hitung arus dengan membagi daya terhadap tegangan yang disediakan. Selanjutnya pilih MCB yang memiliki rating arus sebisa mungkin lebih tinggi tetapi mendekati hasil perhitungan. Nilai ini kemudian disebut sebagai arus nominal.

3.1.2 Step 2: memilihn ukuran kaber yang sesuai dengan arus nominal

Untuk melakukan pemilihan ukuran kabel yang sesuai terhadap arus nominal, mengacu ke table A.1.

Table A.1: Nominal current-carrying capacity of general-purpose, two-core, PVC-insulated copper cables at 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4D2A

Enclosed in a wall mengacu pada kabel yang tertutup plaster baik secara langsung maupun diproteksi conduit.

Enclosed in conduit mengacu pada kabel yang terlindungi conduit atau ditempel pada permukaan dinding atau ceiling.

Clipped to a surface mengacu pada kabel yang diikat pada jarak tertentu dari permukaan tidak rata seperti dinding bata atau kaso/balok silang.

Free mengacu pada kabel dalam kondisi dimana kabel benar benar berada di udara bebas. Untuk kabel pada kabel tray bisa juga dimasukkan dalam kategori ini,

Ada kondisi dimana tidak ada yang sesuai dengan table A.1. Untuk keadaan seperti ini, harus dipilih ukuran yang paling mendekati. Sebagai contoh, kabel untuk lighting kadangkala dipasang sebagian dalam udara bebas, kadang melewati kotak hubung, dan sebagian lagi tertanam dalam plester. Untuk kondisi seperti ini gunakan asumsi untuk pekerjaan kabel dalam plester untuk kebutuhan pemilihan kabel.

3.1.3 Step 3: Koreksi terhadap kondisi temperatur

Dalam pemilihan ukuran kabel sangat perlu memperhatikan kondisi temperatur. Untuk rating nominal pada tabel A.1 mengasumsikan temperatur tidak lebih dari 30 derajat celcius. Sedang untuk kondisi temperatur nominal yang lain maka dilakukan perkalian KHA (kuat hantar arus) dengan faktor koreksi berdasarkan kondisi temperatur (Tabel A.2).

Tabel A.2. Correction of current carrying capacity of general purpose PVC cables for ambient temperatures different from 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4C1

3.1.4 Step 4: Koreksi terhadap cara grouping kabel

Arus nominal sebagaimana ditinjukkan pada tabel A.1 mengasumsikan bahwa masing-masing kabel akan bekerja seara terpisah, dengan tidak adanya kabel yang bekerja secara berdekatan, sehingga kabel satu dengan lainnya akan berpengaruh pada kenaikan temperatur satu dengan lainnya. Tabel A.3 menunjukkan faktor koreksi berhubungan dengan metode grouping kabel. Sebagai catatan, untuk grouping kabel side by side dan tidak saling bersentuhan, penurunan rating arus cukup kecil, akan tetapi jika kabel-kabel tersebut diikat menjadi satu, makan penurunan rating arus akan cukup signifikan.

Table A.3: Correction of current carrying capacity for grouping of cables when bunched and clipped, or clipped side-by-side. Source: IEE Wiring Regulations table 4B1

3.1.5 Step 5: Koreksi terhadap faktor thermal enclosure

Jika kabel bersentuhan dengan salah satu sisi insulation termal, kita dapat menyelesaikan perhitungan sebagaimana dijelaskan pada tahap 2, yaitu dengan memilih arus nominal yang lebih kecil. Akan tetapi jika kabel seluruhnya bersentuhan dengan material insulation, maka hal ini kan berpengaruh besar terhadap kemampuan hantar melewati panas, dan kita harus menurunkan rating arus ke nilai yang sesuai. Niali koefisien perkalian yang sesuai dapat diperoleh pada tabel A.4

Catatan, jika kabel melalui lubang yang ketat baik di dinding maupun di persambungan, maka kondisi ini diasumsikan sebagai kondisi ‘enclosed in insulating material’

Table A.4: Correction of current carrying capacity for complete enclosure in thermal insulation. Source: IEE Wiring Regulations table 52A

3.1.6 Step 6: check the corrected rating

Jika rating arus setelah dilakukan koreksi masih lebih tinggi dari arus nominal pada langkah 1, kemudian kita telah merasa cukup puas untuk nilai `current carrying capacity’ atau KHA (Kuat Hantar Arus) yang didapat, maka bisa dilanjutkan ke tahap 7. Jika tidak, ambil nilai ukuran kabel yang lebih besar dan ulangi lagi dari langkah 3.

3.1.7 Step 7: Menghitung jatuh tegangan

Jika jatuh tegangan antara instalasi sumber dengan peralatan listrik tidak lebih dari 4%. Dengan tegangan sistem 230 V, bebarti jatuh tegangan tidak boleh lebih dari 9.2 V. Jatuh tegangan ini disebabkan karena penghantar juga memiliki nilai hambatan, meski kecil tetapi tidak sama dengan nol. Ketika temperatur kabel naik, maka nilai resisitansi juga ikut naik, dan selanjutnya menyebabkan naiknya nilau jatuh tegangan. Untuk itu sebagai patokan diambil untuk nilai resistansi pada temperatur 70 derajat celcius.

Untuk mendapatkan nilai jatuh tegangan, dapat diperoleh dengan mengalikan arus peralatan dengan resistansi kabel. Untuk mendapatkan nilai resistansi kabel, kita kalikan panjang kabel terhadap nilai yang ditunjukan pada tabel A.5.

Table A.5: Resistance per metre of two-core cable, at 70 degress celcius. Figures are given for the two power cores (for voltage drop and short-circuit current calculations), the power and earth cores (for disconnection time calculations), and the earth alone (for shock voltage calculations). Source: IEE Wiring Regulations table 4D2B

Catatan : Arus nominal yang digunakan untuk bisa bekerja dalam kondisi jatuh tegangan, adalah arus yang kita rencanakan untuk dapat mengalir dalam kondisi normal.

3.1.8 Step 8: Melakukan pengecekan besar tegangan jatuh

Jika jatuh tegangan hasil perhitungan dalam langkah 7 kurang dari 9.2 volt, pemilikan kabel sudah aman. Jika tidak, perlu ukuran kabel yang lebih tinggi dan ulangi langkah 7.

3.2 Step 9: Mengecek waktu pemutusan dan atau tegangan kejut

Jika cirkuit terlindungi oleh RCD (earth-fault device) tidak perlu melakukan langkah ke 9 ini.

Waktu pemutusan (disconnection time) tergantung pada circuit dimana kabel tersebut digunakan. Jika ditempatkan pada tempat beresiko tinggi (kamar mandi, taman), waktu pemutusan harus tidak boleh lebih dari 0.4 detik. Jika beresiko menengah, tegangan kejut harus kurang dari 50 V atau putus dalam waktu 0.4 s. Jika pada tempat beresiko rendah (peralatan fixed) waktu pemutusan harus kurang dari 5 s.

Tegangan kejut dihitung dengan mengalikan tahanan penghantar pentanahan sepanjang kabel dengan arus yang akan memutus peralatan proteksi dalam waktu 5 detik. (Tabel A.7)

Table A.7: `worst case’ currents that will cause a protective device to trip in 5 seconds. Source: MEM Ltd., product information. By worst-case is meant the smallest current that will trip 95% of devices. Note that the MCB figures are identical to those for 0.4 second tripping

Waktu pemutusan dicek dengan mendpatkan arus yang akan memutus peralatan dalam waktu yang ditentukan ( 0.4 atau 5 detik), dan menentukan arus yang mana yang mengalir saat gangguan pentanahan.

(Referensi : A guide to selection of electrical cable by Kevin Boone@2001)

1. Proteksi Arus Lebih

1.1 Beban Lebih dan Hubung Pendek (short Circuit)

Arus lebih adalah satu dari dua bahaya keamana utama yang harus dikendalikan dalam system pengkabelan. Bahaya dari aurs lebih adalah resiko timbulnya api. Di Inggris, lebih dari 50000 kebakaran dalam setiap tahunnya disebabkan oleh masalah kelistrikan.

1.2 Tipe arus lebih (over current)

Overload (Beban Lebih)

Over load terjadi ketika arus yang mengalir dalam suatu system melebihi dari biasanya ( 50 % ~ 100 % lebih tinggi). Over load tidak terjadi secara tiba, tiba tetapi bertahap. Jika masalah ini gagal untuk diselesaikan, cabel penghantar akan menjadi panas dan meleleh, sehingga memungkinkan kabel penghantar menjadi terbuka. KOndisi panas pada penghantar ini mungkin cukup menimbulkan api.

Pada penggunaan di rumah tangga, over load biasanya terjadi akibat pemakaian peralatan listrik yang terlalu banyak pada waktu yang bersamaan, atau menghubungkan suatu peralatan listrik dengan beban kerja tinggi pada stop kontak yang tidak mencukupi kapasitasnya.

Short Circuit (hubung SIngkat)

Hubung singkat adalah terhubungnya fasa dan netral, atau anatar fasa dengan pentanahan. Koneksi antar keduanya kemungkinan memiliki resistansi rendah, dan arus yang emngalir akan menjadi ratusan/ribuan kali lebih tinggi dalam system.

Dalam prakteknya, pada instalasi rumah tangga, pengamann beban lebih dan hubung singkat, keduanya menggunakan salah satu dari fuse (sekering) atau MCB (miniature cirduit breaker).

1.3 Peralatan pengamanan arus lebih.

1.3.1 Fuse (sekering)

Sekering adalah peralatan utama yang akan membatasi aliran arus dalam suatu rangkaian listrik. Sekering terdiri dari sebuah kawat memanjang dan tipis yang kan menjadi panas dan putus ketika arus melebili level tertentu.

Ada dua macan sekering yang sering digunakan dalam rumah tangga :

Cartridge fuse memiliki kawat yang tertutup dalam silinder tertutup, yang terhubung pada masing-masing sisinya.

Semi-enclosed (re-wirable) adalah jenis sekering yang memungkinkan untuk dikawati kembali.

Kerugian dari penggunaan sekering. JIka sekering putus, dan kita tidak mendaptkan rating sekering yang sesuai, apa yang akan kita lakukan ?, tentu kita taidak menginginkan menggunakan fuse dengan rating yang tidak sesuai.

1.3.2 MCB

Peralatan proteksi listrik yang sangat popular saat ini adalah MCB (miniature circuit breaker). MCB dapat bekerja sebaik over current circuit breaker, dan juga memiliki tuas untuk memutuskan arus seceara manual.

1.4 Karaketristik Sekering dan MCB

Karakteristik sekering dan MCB dinilai dalam amps. Secara normal disebut sebagai rated current atau nominal current.

Banyak orang ebrpikir bahwa jika arus melebihi arus nominal, peralatan ini akan bekerja (trip) dengan segera. Misalnya dengan rating 15 amps, maka jika arus system 15.00001 amps maka peralatan tersebut akan bekerja ? Hal ini tidaklah sepenuhnya benar. MCB didesain untuk mengamankan kabel dalam rangkaian listrik, dan arus 15.00001 amps tidaklah membahayakan. Untuk apa peralatan tersebut harus bekerja ?

Photobucket

Gambar 1.1

Axis horizontal menunjukkan arus yang mengalir pada MCB/fuse pada suatu rangkaian yang diproteksi, sedangkan axis vertical menujukkan lamanya waktu diaman peralatan tersebut tetap dialiri arus sebelum bekerja (trip).

Berikut sedikit penjelasan grafik diatas. Baik sekering atau MCB, meskipun mereka emmiliki arus nominal yang sama, akan tetapi memiliki cara ekrja yang berbeda. Sebagai contoh, untuk bekerja dengan ekcepatan 0.1 s, MCB membutuhkan arus 128 amps, sedangkan sekering membutuhkan 300 amps.

1.1 Pemilihan MCB dan Sekering

Nominal current rule

Nominal current dari sekering/MCB harus kurang dari current rating kabel yang dilindunginya, akan tetapi melebihi dari arus yang biasa/terus menerus mengalir normal.

Tripping Rule

Arus yang lebih dari 1.45kali arus nominal harus dapat menyebabkan peralatan proteksi beekrja tidak kruang adri 1 jam.

Disconnection time rule

Pada kondisi hubung singkat, maka sekering/MCB harus dapat bekerja dengan seketika.

1.6 Contoh

Contoh berikut menunjukkan bagaimana menentukan MCB yang digunakan untuk mengamankan suatu rangkaian.

Ambil contoh, dengan 8 buah fitting lampu, masing-masing 100 Watt, maka arusnya adalah 800W/230V atau sekitar 3.5 amps. Kabel dengan diameter 1mm2 mencukupi untuk besar arus tersebut, karena memiliki rating arus 11 amps. Maka MCB yang digunakan ahrus memiliki nominal arus sekurang-kurangnya 3.5 amps dan tidak lebih adri 11 amps. Selanjutnya, arus kerja (tripping current) harus kurang dari 1 4.5 second 11 ampere, untuk melindungi kabel. Dari catalog manufacture didapatakan MCB 6 amps, memiliki arus kerja 8.7 apms

(bersambung)

Dalam teknologi pencahayaan sejumlah istilah teknis dan satuan digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat dari sumber-sumber cahaya dan pengaruh yang dihasilkannya.

2.2.1 Luminous flux

[Φ] = Lumen (lm)

Luminous flux menggambarkan jumlah total cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Pancaran ini secara mendasar dapat diukur atau dinyatakan dalam satuan watt.

Radiant flux 1 Watt yang terpancar pada titik puncak kepekaan spectral (dalam range photopic pada 555nm) menghasilkan luminous flux 683 lm. Mengacu pada bentuk kurva V(λ) radian flux yang sama akan menghasilkan hal yang selalu berhubungan dengan luminous flux yang sedikit berbeda pada tiap titik frekuensi.

2.2.2 Luminous efficacy

η = Φ/P

[η] = lm/W

Luminous efficacy menggambarkan luminous flux suatu lampu dalam hubungannya dengan konsumsi daya dan untuk itu dinyatakan dalam lumen per watt (lm/W). Nilai maksimum teoritis diperoleh ketika total daya radian diubah ke cahaya nampak 683 lm/W.

2.2.3 Quantity of light

Q = Φ.t

[Q] = lm.h

The quantity of light atau dalam standar Amerika disebut sebagai luminous energy, didapatkan dari perkalian luminous flux dengan waktu. Biasanya dinyatakan dalam klm.h.

2.2.4 Luminous intensity

I = Φ/Ω

[I] = lm/sr

lm/sr = Candela (cd)

Pada suatu sumber titik lampu yang ideal akan memancarkan luminous flux yang seragam pada setiap ruang untuk semua arah. Luminous intensity pada kondisi seperti ini adalah sama pada semua arah. Akan tetapi dalam kondisi nyata, luminous intensity tidaklah seragam.

Satuan ukur untuk luminous intensity adalah candela (cd). Satuan candela merupakan satuan dasar utama dalam teknologi pencahayaan dimana besaran lain diturunkan dari satuan ini.