test

Khutbah jum’at hari ini telat beberapa menit karena khatib yang seyoganya hadir tidak datang juga sampe waktu dhuhur, akhirnya khotib diganti dengan Pak Id.

Beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya :

1. Mengenai kejadian gempa sumbar.

Tuhan selalu memberikan isyarat kepada hambanya, mengenai keberadaan diriNya yang sangat dekat dengan kita,  meski lebih sering kita menjauhinya.

Sebuah cerita, seorang anak kecil mendengar suara ting ting (suara mangkok dipukul dengan sendok), kemudian bertanya kepada Bundanya. ‘Wahai Bunda, suara apakah itu gerangan ?’, jawab bundanya, ‘ Anakku, itu adalah isyarat dari tukang baso, kalau mereka ada didekat kita dan beraharap kita membelinya. Tidak beberapa lama, kembali suara lain lagi berbunyi.. tek tek tek !! (suara kentongan dipukul), sang anak bertanya kepada bundanya. ‘Wahai bunda, suara apalagi itu bunda ?’, oh itu isyarat tukang sate memberi tahu kalau dia ada disekitar kita. Anakku banyak sekali isyarat disekitar kita. Tidak perlu tukang bakso berteriak, saya tukang baso, mari kemari… atau tukang sate teriak-teriak Hi saya tukang sate, bermaksud memberitahu kalian kalau sekiranya ada yang ingin membeli sate saya..

Banyak sekali isyarat di sekitar kita, memberi tanda ke kita akan suatu hal. Begitupun Tuhan memberi isyarat melalui berbagai musibah, termasuk gempa untuk mengingatkan hamba Nya.

(pen : Wallau’alam dengan waktu kejadian yang hampir bersamaan dengan surat berikut, yang pasti tidak ada kejadian yang terjadi kebetulan, semuanya sudah tercatat dalam lauh mahfudz sebelum kejadian itu sendiri terjadi)

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS 17:16)

Pertanyaanya, kenapa yang gempa ga di Jakarta saya yang maksiat jauh lebih mengerikan dibanding dengan tempat kejadian gempa ?, bukan saja maksiat sahwati, hampir semua bentuk kezaliman, pencurian/perampokan/korupsi model apa saja ana di ibu kota ini..

Sejadian itu adalah bisa jadi jalan syahid bagi korban yang taat, azab bagi bagi ahli maksiat.  Sekali lagi, kejadian gempa ini adalah isyarat untuk manusia-manusia di tempat lain yang masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri ( Bagaimana dengan diri kita ?)

2. Muhasabah (koreksi diri) terhadap dosa dan gaya hidup kita selama ini.

2.1 Tobat

Terhadap segala dosa yang dilakukan, berhenti berbuat dosa, kemudian mohon ampun, perbanyak amal saleh untuk menghapusnya.

2.2 Koreksi life style kita,

Gaya hidup yang dibenci Tuhan adalah :

2.2.1 Berlebih lebihan..

Konsumsi menuruti keinginan bukan kebutuhan. Ada cerita lagi..

Seorang istri meminta ke suaminya untuk beli gaun baru untuk menghadiri acara penting undangan pejabat super penting. Sang suami bertanya, dari sebegitu banyak baju dilemari masak tidak ada yang masih layak untuk dipakai untuk acara tersebut ?. jawab sang istri, tidak ada yah.. semuanya dah pada jelek, gak layak untuk menghadiri acara itu. Tak lama kemudian,

(bersambung)

Berikut ini cara sederhana untuk desain kebutuhan lift yang saya rangkum dari beberapa artikel, moga bermanfaat.

Penentuan jumlah car (lift) untuk memastikan bahwa kapasitas transportasi dan waktu tunggu terjaga masih dalam service level yang dipersyaratkan pada saat jam sibuk dimana terjadi konsentrasi penumpang pada jam-jam sibuk.


Berikut guide line untuk penentuan jumlah elevator :


1. FAKTOR BEBAN PUNCAK LIFT (PEAK LOAD FACTOR)

Beban puncak lift tergantung :

- jenis gedung

- lokasi gedung

di Indonesia,

kantor : 4% dari jumlah penghuni gedung

flat : 3% dari jumlah penghuni gedung

hotel : 5% dari jumlah penghuni gedung

RS : 5% dari jumlah penghuni gedung

Taksiran kepadatan pengguna gedung per m2

perkantoran : 4 m2/orang

flat : 3 m2 /orang

hotel : 5 m2/orang


2. WAKTU PERJALANAN BOLAK-BALIK LIFT (ROUND TRIP TIME)

Waktu yang diperlukan lift berjalan bolak-balik dari lantai terbawah hingga teratas (dalam zone), termasuk waktu berhenti, pemumpang keluar masuk lift dan pintu membuka dan menutup di setiap lantai tingkat, dengan kapasitas “m“ orang, dirinci sebagai berikut :

1. Penumpang masuk lift di lt dasar = 1.5*m detik/orang

2. Pintu lift menutup di lantai dasar = 2 detik

3. Pintu lift membuka dan menutup di setiap lantai = (n-1)*2 detik

4. Penumpang keluar per lantai = {(n-1)*m}/{(n-1)*1.5} detik

= 1.5*m detik

5. Perjalanan bolak balik lift (dasar ke atas) = (2(n-1)*h)/s detik

6. Pintu lift membuka di lantai dasar = 2 detik

dengan,

h = tinggi lantai ke lantai (m)

m = kapasitas lift (orang)

n = jumlah lantai/zone (buah)

s = kecepatan lift (m/s)

Jumlah = T = ((2h+4s)(n-1)+s(3m+4))/s detik


3. KAPASITAS ELEVATOR (LIFT)

- Daya muat atau kapasitas , tergantung pabrikan.

– Lazimnya : 5 s.d 20 orang

– Untuk kebutuhan khusus : 50 orang (double deck)


Penentuan kapasitas Lift harus direncanakan dengan mempertimbangkan kondisi waktu puncak dimana terjadi konsentrasi penumpang tertinggi.

Disarankan,

a. Untuk gedung kecil ~ menengah, kapasitas passanger ≥ 15 penumpang load kapacity of 1000 kg)

b. Untuk gedung tinggi/hotel, kapasitas passanger passanger ≥ 24 penumpang (load kapacity of 1600 kg)

c. Pintu lift sebaiknya didesain terbuka dari tengah dan ukuran lebar ruang masuk disarankan selebar mungkin dengan tetap mempertimbangkan ukuran dimensi kedalaman ruang elevator.


4. KECEPATAN ELEVATOR (LIFT)

Waktu yang dibutuhkan untuk bergerak dari lantai paling atas ke lantai paling bawah tidak lebih dari 30 detik.

- kecepatan dipilih tergantung tinggi gedung

- makin tinggi gedung, makin cepat lift

- kecepatan mempengaruhi :

- waktu bolak-balik lift

- waktu menunggu lift

- sebagai batas kecepatan diambil gerak jatuh bebas oleh gaya tarik bumi ( 10 mtr/dt)

- kecepatan rendah lift = 1 mt /detik

- kecepatan tinggi lift = mendekati 10 mtr/detik


Hubungan antara kecepatan elevator dan jumlah lantai adalah sebagai berikut :


5. JUMLAH ELEVATOR (LIFT)

- Pada gedung tinggi, dibagi perzona vertikal

– Pembagian dalam zona untuk menghemat lift

– tinggi 1 zona = +/- 20 lantai

N = (2*n*T(A2-M3))/(3*m*(n*T+40000)) buah lift


- dihitung seteliti mungkin,

Untuk Zone lebih dari 1, dapat dihitung dengan persaman sebagai berikut :

N = (2*n*T(A2-M3))/(3*m*(n*T+40000)) buah lift

Zone 2 (Lt dasar s.d Lantai “x”) :

N2 = (2*a*n2*T2*P)/(600*a”*m+3*m*n2*T2*P)

N1 = (2*n1*T1*P(a-6*m))/(3*m(200*a”+ n1*T1*P)


6. WAKTU MENUNGGU LIFT

Kesabaran orang menunggu tergantung kota, negara (kota besar kurang sabar)

- waktu tunggu, – 30 detik (perkantoran)

- 60 detik ()

- waktu menunggu = (waktu bolak-balik/jumlah lift)

W = T/N detik


7. TENAGA/ENERGI LISTRIK (UNTUK LIFT)

Energi yang dibutuhkan lift dengan,

- kapasitas = m orang

- kecepatan = s mtr/detik

adalah sama dengan energi potensial lfit berikut muatannya.

- untuk menghemat listrik, tinggi gedung dibatasi

- tenaga listrik yang dibutuhkan hanya untuk mengerek muatan lift saja

- lift dalam keadaan kosong dapat dibuat seimbang oleh bandul (counterweight) lift

- jika 1 orang = 75 kg, dengan kapasitas (m) orang, maka energi potensial setinggi “h” meter

(tinggi lantai ke lantai) = 75*m*h kgm

Ini ditempuh dalam h/s detik.


Daya = (kerja/waktu)             = (75*m*h)/(h/s)

= 75*m*s kgm/det

= m*s HP

1 HP = 0.746 kWatt

Daya (E) = (0.746)*m*s kWatt

8. PENENTUAN SERVICE FLOOR

Tujuan dilakukan pembagian zone untuk masing-masing lift/group lift ditujukan untuk menurunkan waktu transportasi, meningkatkan rental rates dsb.

Pembagian zone mengacu pada pembaain elevator service terhadap jumlah zone, dan instalasi elevator group ditujukan untuk masing-masing zone.

Disarankan, sebaiknya ditentukan area service 10 ~ 15 lantai untuk masing-masing zone.


Rules of Tumb

1. Untuk bangunan tinggi, 1 orang = 11,65 m2 Lantai

2. Jumlah penghuni/pemakai gedung :

-  225 s.d 250 orang = 1 elevator

– tinggi bangunan kurang dari 20 lantai

– typical floor lebih dari 930 m2

3. 1 (satu) elevator service untuk +/- 27800 m2 Lantai

4. Ratio elevator service dengan elevator penumpang pada Hotel

0.5 : 1 atau 0.6 : 1

Referensi :

1. Thosiba Inverter High Speed PMSM Gaerless Elevator, distributed by Thosiba Elevator and Building System Corporation.

2. Mekanikal Elektrikal by Sunarno, PENERBIT ANDI

3. Buku catatan mas gilang (itb archie ‘98)

Kita ingin memasang shower elektrik dalam kamar mandi. Mengacu pada datasheet pabrikan, peralatan ini membtuhkan 6.9 kW. Total panjang kabel memanjang dari main distribution board adalah 15 mtr, dimana 2 meter ujungnya akan tertanam dalam plester dibelakang kubical shower. Sisanya dijepit pada joist dibawah lantai. Shower memiliki MCB sendiri terpasang dalam distribution board. Berapa ukuran kabel yang diperlukan ?

Pertama, kita perlu mengetahui arus yang dibutuhkan :

Arus = daya / tegangan

= 6900W / 230 Volt

= 30 Ampere.

Karena memiliki MCB tersendiri, kita dapat memilih rating MCB. Dari katalog pabrikan, untuk MCB tipe 1, dapat dipilih 30 ampere sebagai arus nominal sistem.

Mengacu pada tabel A.1 untuk mendapatkan dasar ukuran kabel.

Table A.1: Nominal current-carrying capacity of general-purpose, two-core, PVC-insulated copper cables at 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4D2A

IEE Wiring Regulations table 4D2A

Source: IEE Wiring Regulations table 4D2A

Mengingat sebagian besar kabel tertanam dalam plester, maka untuk keamanan kita pilih ‘enclosed in a wall’ dari tabel tersebut. Kita dapatkan ukuran 6 mm2 memiliki rating 32 ampere dan sepertinya telah sesuai.

Selanjutnya untuk faktor koreksi. Pertama, sangat mungkin bahwa suhu lingkungan sedikitnya lebih besar dari 30 derajat pada sebagian kabel, karena berada di belakang kubikal shower.Kondisi seperti ini mau tidak mau mungkin sekali naik menjadi lebih dari 40 derajat, Selanjutnya, saya akan menggunakan kondisi diatas sebagai gambaran dasar.. Berdasarkan tabel A.2

Tabel A.2. Correction of current carrying capacity of general purpose PVC cables for ambient temperatures different from 30 degrees celcius. Source: IEE Wiring Regulations table 4C1

Efecive cable capacity = 0.87 x 32 ampere

= (faktor koreksi temperatur x rating arus.

= 27.84 ampere

Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai efektif kurang dari perhitungan arus nominal (30 ampere), untuk itu kabel dengan ukuran 6 mm2 tidak memenuhi persyaratan dan harus dipilih ukuran yang lebih besar, yaitu 10 mm$^2$ yang memiliki rating arus 43 amps (lihat table 1), selanjutnya lakukan perhitungan ulang berdasar table 2.

Efecive cable capacity = 0.87 x 43 ampere

= (faktor koreksi temperatur x rating arus.

= 37.41 ampere

Lebih besar dari arus nominal,sampai disini judgment untuk pemilihan kabel OK

Saya tidak perlu melakukan koreksi grouping, karena kabel baru ini ditempatkan jauh daru kabel kabel lain yang sebelumnya telah terpasang pada area tersebut.

Saya juga tidak perlu melakukan koreksi terhadap pengaruh thermal insulasi, karena tidak ada sesuatu berada disekeliling kabel tersebut. Akhirnya, didapatkan rating arus terkoreksi adalah 37.41 ampere, yang nilainya jauh dari 30 ampere (arus nominal), sehingga sampai disini tidak ada masalah.

Selanjutnya, menghitung jatuh tegangan yang terjadi. Dari table A.5, nilai resistansi per meter untuk kabel ini adalah 0.0044 ohm. Dengan panjang kabel yang digunakan adalah 15 meter, maka

Total resistansi = 0.0044 Ohm/meter * 15 meter

= 0.066 Ohm.

Jatuh tegangan = 0.066 Ohm * 30 Ampere

= 1.98 Volt.

Nilai jatuh tegangan masih jauh dari 9.2 Volt sebagaimana yang dipersyaratkan, sehingga sejauh ini judgment OK.

Table A.5: Resistance per metre of two-core cable, at 70 degress celcius. Figures are given for the two power cores (for voltage drop and short-circuit current calculations), the power and earth cores (for disconnection time calculations), and the earth alone (for shock voltage calculations). Source: IEE Wiring Regulations table 4D2B

Akhirnya, bisa ditetapkan ukuran kabel yang aman untuk keperluan ini adalah 10 mm$^2$

Karena kabel ini untuk melayani shower, untuk amannya sebaiknya menggunakan RCD untuk proteksi gangguan pentanahan. Jadi, pada prinsipnya saya tidak perlu melakukan pengecekan waktu pemutusan (disconnection time) pada saat terjadinya gangguan pentanahan. Tetapi untuk keperluan latihan, mari kita lakukan perhitungan untuk hal ini.

Panjang kabel 17 meter. Nilai resistansi kombinasi konduktor pembumian dan fasa (table A.5) adalah 0.0077 Ohms/meter, jadi untuk panjang 17 meter, nilai tahanannya adalah 0,13 Ohm. Dengan menggunakan asumsi bahwa tahanan bagian ekternal dari loop pentanahan adalah 0.8 Ohm, maka total tahanan pembumian loop adalah 0.13 + 0.8 = 0.93 Ohm. Arus gangguan pentanahan menjadi 230/0.93 amps atau 247 amps. MCB yang telah dipilih adalah dengan rating 30 A (lihat label A.6), akan trip dalam 0.4 detik dengan arus sebesar 120 amps. Untuk itu, waktu pemutusan diatas telah memenuhi, meskipun tidak menggunakan RCD.

referensi: A guide to selection of electrical cable ©2001 Kevin Boone

Berikut beberapa hadist mengenai hubungan anak dengan orang tuanya. Sedihnya anak adalah sedihnya orang tua, bahagianya anak adalah bahagianya orang tua. Sedang ridhonya Allah adalah ridhonya orang tua. Seringkali bahkan selalu kita merasa ingin sekali membahagiakan orang tua, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan orang tua, menjaga mereka, tetapi apa yang kita inginkan ini masih jauh dari yang kita harapkan. Dan sebaris do’a untuk mereka tiap habis sholat kita panjatkan untuk kebahagiaan mereka, kesehatan mereka, dan harapan dikumpulkan kembali nanti di jannah-Mu..

Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).

Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu. (Shahih Muslim No.4621)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Seseorang datang menghadap Nabi saw. memohon izin untuk ikut berperang. Nabi saw. bertanya: Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Orang itu menjawab: Ya. Nabi saw. bersabda: Maka kepada keduanyalah kamu berperang (dengan berbakti kepada mereka). (Shahih Muslim No.4623)

Tiga macam do’a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do’a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)